Tuesday, May 24, 2011

Pilar Pendidikan Karakter Al-Azhar Kelapa Gading Surabaya



Ada empat pilar pendikan karakter yang sudah di rumuskan oleh Perguruan Islam Al-Azhar Kelapa Gading sejak tahun 2009.



. Pilar Pendidikan Karakter



Untuk mengawal dan membiasakan potensi kebaikan yang dimiliki oleh anak, maka Perguruan Islam Al-Azhar Kelapa Gading mengambangkan pola karakter dengan 4 pilar: (Rumusan Cipayung)



1. Robbaniyyah (Hubungan manusia dengan Allah)



a. Memiliki keimanan yang kokoh



~ Selalu optimis (Roja’)



b. Menerapkan keimanan dalam perilaku sehari-hari



~ Takut berbuat dosa (Khauf)



c. Memiliki ketaatan dalam beribadah



~ Ikhlas dalam beribadah



~ Mendirikan shalat wajib dan sunnah



~ Selalu menunaikan zakat



~ Terbiasa membaca Al-Qur’an



~ Menjalankan puasa



~ Membiasakan berinfak dan berkurban



~ Mengucapkan kalimat thoyyibah



~ Sabar dan adil



~ Membiasakan ibadah sunnah



~ Membiasakan menutup aurat



2. Insaniyyah (Hubungan sesama manusia)



a. Meneladani sifat-sifat Allah dalam hubungannya sesama manusia



~ Memiliki sifat sabar (as-Shabuur)



~ Memiliki sifat kasih sayang (ar-Rahman)



~ Memiliki sifat adil (Al-Adl)



~ Memiliki sifat bersyukur (As-Syakur)



~ Memiliki sifat mensucikan diri (Al-Kudus)



~ Memiliki sifat berani (Al-Aziz)



~ Memiliki sifat lemah-lembut (Al-Latif)



~ Memiliki sifat cerdas (Ar-Rasyid)



~ Memiliki sifat pemaaf (Al-Afwu)



b. Meneladani sifat-sifat Rasulullah dalam hubungannya sesama manusia



~ Memiliki sifat Siddiq



~ Memiliki sifat amanah



~ Memiliki sifat tabligh



~ Memiliki sifat fathonah



c. Mengaplikasikan pesan-pesan Al-Qur’an dalam hubungan sesama manusia



~ Berbakti kepada kedua orang tua



~ Ikhlas beramal



~ Rajin bekerja



~ Ramah dalam pergaulan



~ Ulet dalam menggapai cita-cita



~ Logis dalam berfikir



~ Waspada terhadap napza



~ Amanah dan dapat dipercaya



~ Lemah lembut dalam tutur kata



~ Istiqomah, teguh dalam keyakinan



~ Disiplin dalam segalan hal



~ Adil dalam segala tindakan



~ Ikram, hormat kepada guru dan sesama manusia



~ Nadzafah, bersih hati, pakaian, dan lingkungan



3. Ilmiyah (Hubungan dan sikap terhadap ilmu pengetahuan)



a. Siap belajar



b. Kejujuran ilmiyah



c. Berfikir logis dan sistematis



d. Bersikap haus ilmu



e. Bersikap ulet dan gigi



4. Alamiyah (Hubungan terhadap alam sekitar)



a. Memelihara kelestarian alam



b. Memanfaatkan Alam



c. Melakukan tadabbur dan tafakkur alam





Catatan:



Empat pilar di atas dijabarkan dalam SKL (Standar Kompetensi Lulusan) yang meliputi Standar Kompetensi, Kompetensi Dasar, Indikator, materi, dan penailaian. Dari sinilah, kemudian diintegrasikan di dalam semua mata pelajaran dan kegiatan ekstra kurikuler, serta pembinaan karakter di pagi hari. Selain itu ada pengawalan budaya sekolah yang dilakukan terus menerus oleh semua guru.



Pendidikan Karakter Jangan Salah Arah


A. Latar Belakarang


Karakter bangsa sebuah keniscayaan untuk segera dilaksanakan dalam dunia pendidikan. Karakter bangsa menjadi pilar penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Karakter bangsa ini ibarat kemudi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Walaupun begitu penting, ternyata keajegan perhatian terhadap pembangunan karakter bangsa belum terjaga dengan baik, sehingga hasilnya belum optimal.


Karakter bangsa ini merupakan salah satu amanat pendiri negara dan telah dimulai sejak awal kemerdekaan. Dalam sebuah pidatonya, pendiri negara pernah berpesan bahwa tugas bangsa Indonesia dalam mengisi kemerdekaan adalah mengutamakan pelaksanaan Nation and Character Building. Bahkan beliau telah wanti-wanti ”Jika pembangunan karakter bangsa tidak berhasil, maka bangsa indonesia akan menjadi bangsa kuli.”


Banyak permasalahan di sekitar kita. Berdasarkan survey Komnas Perlindungan Anak, PKBI, BKKBN tentang perilaku remaja yang telah melakukan hubungan seks pranikah di perkotaan sebagai berikut: 62,7% siswi SMP pernah melakukan. 21,2% remaja pernah aborsi. 93,7% remaja SMP dan SMA pernah melakukan ciuman dan oral seks. 97,% remaja SMP dan SMA pernah menonton film porno. (Media Indonesia, 18 Januari)


Data tentang korupsi pejabat misalnya, dari hasil riset yang dilakukan dalam Transparency International Corruption Perceptions Index 2009, masih menempatkan Indonesia pada peringkat yang sangat memperihatinkan. Terkait dengan penyalahgunaan narkotika, Badan Narkotika Nasional (BNN) pada tahun 2009 tercatat adanya 3,6 juta pengguna narkoba di Indonesia, dan 41% diantara mereka pertama kali mencoba narkoba di usia 16-18 tahun, yakni usia remaja SMP-SMU. (Republika online, 26/06/2009). Dan masih banyak permasalahan lain di negeri ini yang perlu diselesaikan melalui pendidikan.


Melihat fenomena seperti ini maka wajar jika pemerintah menjadikan pendidikan karakter program unggulan. Ini artinya pemerintah serius untuk menangani persoalan bangsa. Tidak ingin bangsa ini menjadi bangsa kuli. Tidak ingin bangsa ini semakin terpuruk nilai-nilai moral yang berakibat rusaknya sendi-sendi tatanan bangsa.



B. Memahami Konsep Pendidikan Karakter


Karakter menurut kamus besar bahasa Indonesia diartikan sebagai sifat-sifat kejiwaan, akhlaq atau budi pekerti yang membedakan seseorang dari yang lain. Karakter juga bisa diartikan tabiat, yaitu perangai atau perbuatan yang selalu dilakukan atau kebiasaan. Karakter juga diartikan watak, yaitu sifat batin manusia yang mempengaruhi segenap pikiran dan tingkah laku atau kepribadian.


Aristoteles membedaan moral dengan pendidikan karakter. Moral adalah ajaran atau aturan tentang seperangkat nilai-nilai untuk membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Moral masih bersifat normatif berupa seperangkat aturan yang dijadikan acuan dalam pendidikan karakter.


Pendidikan Karakter menanamkan kebiasaan (Habituation) tentang hal yang baik sehingga siswa menjadi faham (domein kognitif) tentang mana yang benar dan mana yang salah. Mampu merasakan (domein afektif) tentang mana yang baik. Dan keinginan untuk melakukan (domein Psikomotor).


Pendidikan Karakter itu erat kaitannya dengan “habit” atau kebiasaan yang terus menerus dipraktikan dan dilakukan, bisa melahirkan kepribadian. Pendidikan karakter inilah yang bisa mengantar anak-anak kita menjadi sukses mulia. Tentunya melalui keteladanan, pesan mulia, dan pendampingan.


Pendidikan karakter adalah internalisasi nilai-nilai kelayakan yang dikawal dalam pembiasaan hingga melahirkan kepribadian yang mulia. Nilai-nilai kelayakan yang dijadikan teladan adalah sifat-sfat mulia rasulullah, yaitu siddiq, amanah, tablig, fathonah. Dalam rumusan nasional disebut dengan olah hati, olah rasa & karsa, olah raga, dan olah fikir.


Tujuan pendidikan karakter pada tingkat institusi mengarah pada pembentukan budaya sekolah, yaitu nilai-nilai yang melandasi perilaku, tradisi, kebiasaan keseharian, dan simbol-simbol yang dipraktikkan oleh semua warga sekolah, dan masayarakat sekitar sekolah. Budaya sekolah merupakan ciri khas, karakter atau watak, dan citra sekolah tersebut di masyarakat luas.



C. Pola Pelaksanaan Pendidikan Karakter


Kemendiknas telah merancang ‘grand design’ pembelajaran pendidikan karakter. Itu yang harus dijadikan acuan. Acuan yang telah ditetapkan Kemendiknas terkait pendidikan karakter adalah pengelompokan konfigurasi karakter, yakni olahhati, olahpikir, olahraga, dan olahrasa-karsa.


Olahhati bermuara pada pengelolaan spiritual. Dalam agama dikenal sifat siddiq yang dimiliki oleh Rasulullah. Dalam pandangan psikologi dikenal spiritual quotion (SQ). Bagaimana membangun hubungan yang mesra dengan sang Kholik.


Olahpikir bermuara pada pengelolaan intelektual. Dalam agama dikenal sifat Fathonah yang dimiliki oleh Rasulullah. Dalam pandangan psikologi dikenal intellectual quotion (IQ). Bagaimana membangun kecintaan dengan ilmu pengetahuan. Membentuk manusia menjadi manusia pembelajar.


Olahrasa/Olahkarsa bermuara pada pengelolaan emosi dan kreativitas. Dalam agama dikenal sifat Tabligh yang dimiliki oleh Rasulullah. Dalam pandangan psikologi didikenal emotional quotion (EQ). Bagaimana membangun hubungan antar manusia dan mengolah daya kreatif menjadi hal yang perlu ditata sejak awal.


Olahraga bermuara pada pengelolaan fisik. Dalam agama dikenal sifat amanah yang dimiliki oleh Rasulullah. Dalam pandangan psikologi dikenal Adversity quotion (AQ). Bagaimana manusia bisa menjaga kesehatan sebagai amanah untuk bisa memakmurkan bumi ini. Tanpa fisik yang kuat, sulit memegang amanah sebagai kholifah di muka bumi. Selain itu mampu untuk mengubah hambatan menjadi peluang dengan fisik yang kuat.


Al-Azhar Kelapa Gading Surabaya tahun 2009 telah merumuskan pendidikan dengan empat pilar, yaitu robbaniyyah, insaniyyah, ilmiyyah, dan alamiyah. Empat pilar ini disinergikan dengan konsep yang telah ditetapkan oleh pemerintah.


Keempat konfigurasi penanaman pendidikan karakter tersebut dilaksanakan dengan serius oleh seluruh pemangku kepentingan. Di sekolah dilaksanakan melalui rancangan kegiatan pembelajaran dan tidak boleh melenceng dari acuan kemendiknas. Selain itu dibuat model budaya karakter dengan pendampingan yang serius. Di rumah, orang tua memiliki budaya karakter yang bisa dijadikan acuan. Begitu juga di masyarakat ikut bersinergi dalam membangun karakter anak. Ketika segi tiga emas ini bisa bersinergi dengan baik, maka apa yang menjadi keresahan semua pihak bisa diminimalisir. Rumah, sekolah, dan masyarakat memiliki perhatian yang sama dalam membangun masyarakat yang “Baldatun Thoyyibatun wa Robbun Ghofur


Untuk memudahkan langkah pelaksanaan pendidikan karakter, maka ada langkah yang perlu dilakukan oleh sekolah. Meskipun pendidikan karakter ini bukan pelajaran khusus, tetapi ada kesempatan bagi seorang guru untuk melakukan pembinaan kepada anak dan pendampingan. Hal ini untuk melakukan pengawalan sehingga terbentuk pembiasaan dan terbangun karakter yang mulia.


1. Pemodelan / Keteladanan (Budaya Positif)


Dalam perkembangannya, setiap orang melalui tiga tahapan. Tahap pertama adalah masa tanam. Masa tanam ini berkisar antara usia 0 sampai 7 tahun. Tahap kedua adalah masa model. Masa model berkisar antara usia 7 sampai 14 tahun. Tahap ketiga adalah masa sosial. Masa sosial berkisar antara 14 sampai 21 tahun.


Tahap pertama dan kedua menjadi tahap yang paling menentukan. Pada masa tanam, anak-anak belum bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Apapun yang terekam di dalam fikiran itulah yang dikerjakan, tanpa menanyakan benar atau salah. Usia ini apa kata yang ada di sekelilingnya. Pembiasaan lingkungan keluarga akan menentukan perkembangan berikutnya.


Begitu juga di sekolah, peran guru cukup strategis.Tingkah laku dan ucapan guru menjadi perhatian bagi anak. Di saat inilah konsep-konsep itu akan tersimpan dalam memori jangka panjang anak. Bahkan terekam dan tersimpan di dalam alam bawah sadar anak.


Tahap kedua masa pemodelan. Anak-anak akan selalu mencari figur yang bisa dijadikan model. Awalnya akan melihat orang tua sebagai model. Selanjutnya anak juga akan mencari model dari guru. Di sinilah peran orang tua dan guru. Perilaku dan ucapan orang tua dan guru menjadi model bagi anak.


Ketika model tidak dijumpai di dalam rumah. Begitu juga, di sekolah anak tidak menemukan model dari seorang guru, maka anak akan mencari model di luar. Paling muda adalah model di TV, selebriti, baik penyanyi maupun aktor sinetron. Bahkan bisa juga model anak-anak yang ada di luar rumah.


Untuk lebih memudahkan dalam pengawalan dan pengamatan, maka sekolah dan rumah membuat budaya positif. Budaya sekolah mulai masuk hingga siswa pulang tertulis secara sistematis. Budaya itu berlaku untuk semua, tanpa kecuali. Begitu juga di rumah. Budaya ini yang menjalankan adalah pemimpin sekolah, kemudian guru, selanjutnya siswa. Begitu juga di rumah, orang tua yang memulai menjalankan budaya dan diikuti oleh anak.


2. Pesan Moral


Anak-anak tahu mana yang baik dan mana yang buruk tidak lepas dari pesan orang dewasa. Ketika pesan itu masuk ke dalam memori dan dihayati, kemudian diaplikasi, maka akan membentuk sebuah karakter. Pesan itu bisa terucap bisa juga tertulis. Perlu diketahui bahwa pesan yang mudah difisualkan lebih mengena dan lebih mudah tersimpan dalam waktu yang cukup panjang.


a. Pesan Terucap


Pesan yang terucap sering kali disampaikan oleh orang tua dan guru kepada anak. Pesan yang terucap bisa dalam bentuk masehat, bisa juga dalam bentuk kata bijak, bahkan bisa juga dalam bentuk cerita. Sekali lagi, ketika pesan terucap itu bisa digambarkan, bisa difisualkan, maka lebih mengena dan bisa tersimpan dalam memori jangka panjang.



b. Pesan Tertulis


Selain pesan terucap dari orang tua dan guru, bisa juga pesan itu dalam bentuk tulisan. Banyak sekolah yang memasang tulisan-tulisan bijak sebagai bentuk pesan moral kepada anak. Pesan tertulis yang dibaca secara berulang-ulang akan membentuk karakter mulia pada anak. Pesan tertulis juga bisa berupa buku cerita yang mengandung nilai moral.



3. Integrasi Kurikulum


Pendidikan karakter terintegrasi dalam semua mata pelajaran dan kegiatan pengembangan diri, baik yang terprogram melalui ekstra kurikuler maupun yang tidak terprogram. Setiap mata pelajaran selalu memasukkan indikator karakter. Hal ini bisa dilihat di dalam lesson plan. Begitu juga yang terkait dengan ekstra kurikuler dalam rangka membangun karakter siswa. Hal ini bisa dirumuskan bersama-sama agar bisa difahami oleh semua warga sekolah.


Karakter tidak membutuhkan biaya yang tinggi, tetapi dibutuhkan komintmen yang tinggi dari semua pemangku kepentingan. Pelaksanaan karakter dibutuhkan konsistensi, tentunya dengan sistem yang baik. Ketika semua mekanisme berjalan dengan baik, pendidikan karakter akan membuahkan kepribadian yang mulia.




Penulis:


Drs. Najib Sulhan, MA

Sudah dimuat di Media Jatim Plus (2 Mei 2011)

Monday, October 12, 2009

Buku Karya Najib Sulhan

1

2

3


4


5
  1. Judul Buku : Piramida Bahasa Indonesia
    Tebal Buku : 110 halaman
    Penerbit : SIC Surabaya
    Sasaran : Siswa SD dan SMP
    Isi Buku :
    Buku ini berisi tentang ilmu kebahasaan, mulai dari pemahaman tentang huruf hingga wacana. Buku ini sebagai penunjang bagi siswa yang akan menghadapi Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional (UASBN) untuk SD dan Unas untuk SMP.
    Buku ini sudah di jual di toko-toko buku atau jika kesulitan bisa pesan ke penulis
  2. Judul Buku : Pembangunan Karakter Pada Anak:
    Manajemen Pembelajaran Guru
    Menuju Sekolah Efektif
    Tebal Buku : 122 halaman
    Penerbit : SIC Surabaya
    Sasaran : Guru dan Orang Tua
    Isi Buku
    Menyadari bahwa setiap anak memiliki karakter yang berbeda-beda. Untuk itu buku ini memberikan solusi untuk mengetahui cara memahami karakter anak dalam proses belajar mengajar. Selain itu untuk mengetahui problematika belajar pada anak.
  3. Judul Buku : Aku Bisa Memimpin
    Tebal Buku : 80 halaman
    Penerbit : SIC Surabaya
    Sasaran : Siswa SD dan SMP
    Isi Buku
    Semua orang pada dasarnya adalah pemimpin. Namun demikian, tidak semua bisa memimpin dengan baik. Untuk itu, sejak kecil ada bekal-bekal yang perlu dimiliki oleh anak sehingga kelak menjadi pemimpin yang baik. Pemimpin yang selalu dikagumi, diikuti, dan dirindukan. Semua itu dibentuk sejak dini.
  4. Judul Buku : Aku Ingin Menjadi Penulis Cilik
    Tebal Buku : 58 halaman
    Penerbit : SIC Surabaya
    Sasaran : Siswa SD dan SMP
    Isi Buku
    Pada dasarnya menulis itu sangat mudah. Tapi sayang banyak yang takut untuk memulai. Buku ini memberikan motivasi kepada siswa yang memiliki hobi menulis. Selain itu ada langkah-langkah dan cara untuk menulis. Mulai dari membuat catatan harian hingga menjadi sebuah buku yang bisa diterbitkan.
  5. Judul Buku : Aku Ingin Menjadi Wartawan Cilik
    Tebal Buku : 126 halaman
    Penerbit : SIC Surabaya
    Sasaran : Siswa SD, SMP, dan SMP
    Isi Buku
    Wartawan menjadi profesi yang menarik untuk ditekuni. Buku ini berisi tentang cara menulis berbagai bentuk tulisan yang bisa dipublikasikan. Mulai dari cara menulis artikel, berita, feature, cerpen, puisi, dll. Selain itu cara membuat majalah dinding, buletin sekolah, dan majalah sekolah juga ada di dalam buku ini.










Wednesday, July 15, 2009

Meriahnya Tahun Pelajaran Baru 2009/2010 Di Al-Azhar Kelapa Gading Surabaya

Tanggal 13 Juli 2009 merupakan awal tahun pelajar 2009/2010 sesuai kalender pendidikan secara serentak di Indonesia. Berbagai agenda dibuat di setiap sekolah. Perguruan Islam Al-Azhar Kelapa Gading Surabaya membuat agenda yang cukup menarik Seluruh siswa, baik siswa baru maupun siswa lama dikumpulkan bersama di halaman sekolah. Mereka mendapatkan pengarahan dari direktur Perguruan Islam Al-Azhar Kelapa Gading Surabaya. Selain itu, hadir juga bapak Ir. H. Arno Kermaputra selaku wakil pelaksana harian Al-Azhar Kelapa Gading untuk memberikan motivasi.

Suasana cukup meriah pada saat siswa baru memegang balon untuk diterbangkan. Begitu juga ketika ada ratusan balon untuk menarik spanduk yang bertuliskan ”Fly High ALAZKA” dengan berbagai bentuk dan warna yang cukup menarik. Harapannya, baik TK, SD, maupun SMP mampu terbang tinggi meraih sukses dengan pondasi moral yang kuat serta beragam kecerdasan yang dimiliki anak sampai pada kondisi terbaiknya. Pada saat itu juga diberikan penghargaan berupa piala dan piagam yang khusus didatangkan dari Jakarta bagi anak yang juara di tingkat Jawa Timur hingga tingkat nasional.

Setelah pembukaan tahun pelajaran, dilanjutkan dengan penampilan berbagai kegiatan ekstra yang ditangani oleh ”Sanggar ALAZKA”. Ada demo robotika, permainan drum, gitar, biola. Selain itu ada paduan suara, band putri. Tidak kalah menariknya adalah demo bacaan Al-Quran dengan tartil dan tarjim secara harfiah. Begitu juga penampilan tae kwon do yang pernah menjadi juara juga ditampilkan. Sambutan yang luar biasa baik dari orang tua maupun siswa yang menyaksikan pagelaran ekstra kurikuler. Saat itulah orang tua memilih kegiatan ekstra sesuai bakan putra-putrinya.

Masa Orientasi Siswa (MOS) dilaksanakan untuk TK, SD, dan SMP tanggal 13 sampai 15 Juli 2009. Agenda yang dibuat oleh TK, SD, dan SMP berbeda. Untuk TK dan SD lebih menekankan pada pengenalan lingkungan sekolah. Adapun untuk SMP, selain pengenalan lingkungan sekolah juga ada pembekalan tentang penanggulan Napza, baris berbaris, dll. Begitu juga dilakukan matrikulasi untuk pemetaan anak-anak sesuai dengan kondisi yang ada. Dengan demikian ada data base untuk kegiatan berikutnya.

Kelompok Bermain (KB) Al-Azhar Kelapa Gading Surabaya Juara 2 Jawa Timur

Tanggal 4 Juli 2009 Kelompok Bermain (KB) Al-Azhar Kelapa Gading Surabaya ditunjuk untuk mewakili Kota Surabaya dalam lomba Pendidikan Anak Usia Dini tingkat Jawa Timur. Hadir selaku penilai, Ibu Wujiati dari Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur. Bapak Drs. Mujadi NS, Drs. Hafiluddin Tabrani, Ibu Elzim Khosyiyati, S.Hi dari Himpaudi Jawa Timur.

Alhamdulillah, berdasarkan penilaian yang dilakukan oleh dewan juri, PAUD Al-Azhar Kelapa Gading Surabaya menjadi Juara 2 se Jawa Timur. Penerimaan piala dilakukan di Kantor Dinas Pendidikan Propinsi Jawa Timur tanggal 14 Juli 2009. Untuk selanjutnya yang masuk tiga besar dipersiapkan untuk mewakili ke tingkat nasional. Mudah-mudahan bisa mewakili untuk tingkat nasional dan bisa tampil terbaik dengan membawa nama Dinas Pendidikan Jawa Timur.

Hasil Terbaik Uji Tiga Kemampuan Dasar

Mulai tahun pelajaran 2008/2009 diadakan uji tuga kemmapuan dasar (TKD) untuk kelas 3 SD yang meliputi mambaca, menulis, dan berhitung. Kegiatan ini dilaksanakan serentak secara nasional. Tujuannya adalah untuk mengetahui sejauh mana kemmpuan anak-anak membaca, menulis, dan berhitung.
Alhamdulillah, setelah keluar hasilnya, Siswa Al-Azhar Kelapa Gading Surabaya yang berjumlah 56 siswa menduduki urutan pertama di tingkat Kecamatan Mulyorejo dan masuk 5 besar untuk tingkat Kota Surabaya. Nilai rata rata-rata yang diperoleh adalah 8,03 dengan rincian untuk membaca rata-rata 8,25, menulis rata-rata 8,25, dan berhitung rata-rata 7,22.
Ini merupakan satu bentuk layanan dari sekolah untuk siswa. Kami sangat menyadari bahwa kelas 1, 2, dan 3 merupakan kelas yang sangat menentukan kelanjutan kelas di atasnya. Banyak permasalahan yang muncul di kelas-kelas atas bermula dari masa-masa golden age,. Untuk itulah Al-Azhar Kelapa Gading Surabaya menyiapkan anak-anak yang tangguh.

Sunday, May 17, 2009

Pretasi Al-Azhar Kelapa Gading Surabaya Di Hari Jadi Kota Surabaya ke 716

Alhamdulillah, Al-Azhar Kelapa Gading Surabaya selalu bisa memberikan yang terbaik untuk kecamatan Mulyorejo. Setelah bulan April 2008 memborong berbagai prestsi untuk kegiatan siswa dan guru, untuk Hari Jadi Kota Surabaya juga tetap bisa menyumbangkan prestasi. Lomba cak dan ning usia SD mendapat juara 3 dari jumlah peserta 400. SD Islam Al-Azhar Kelapa Gading Surabaya mengirimkan 4 perwakilan, Muhammad Ali Zuhdi (4), Elen Jelita (4), Dendi Hermawan (3), dan Azzahransyah Sofia Siswanto (3). Keempat peserta, semua bisa masuk final. Akhirnya satu anak Menjadi juara 3, dua anak masuk 10 besar dan satu lagi menjadi finalis.
Tanggal 14 Mei 2009, Siswa SMP Islam Al-Azhar KGS mengikuti lomba renang antar pelajar di kota Surabaya, Alhamdulillah, satu satunya siswa yang dikirim, Hilal Apriyanto kelas VII SMP mendapat juara 2. Dalam waktu yang sama guru TK Al-Azhar KGS juara 3 dalam lomba membuat Alat Peraga Edukasi (APE). Sekarang Guru-guru TK AKGS tengah menyiapkan lomba HAN tingkat kota Surabaya. Ada tiga lomba yang harus mewakili untuk kecamatan, yaitu lomba menyanyi bersama, percakapan, dan melempar. Semoga prestas-demi prestasi terus diraih. Amin.

Kunjungan Guru BP Madrasah Tsanawiyah Se-Jawa Timur di Al-Azhar Kelapa Gading Surabaya

Senin, 18 Mei 2009 SMP Islam Al-Azhar Kelapa Gading Surabaya kedatangan tamu. Mereka yang datang adalah guru BP (Bimbingan Penyuluhan) di Madrasah Tsanawiyah se Jawa Timur. Guru BP yang hadir merupakan peserta diklat tentang materi ke-BP-an selama satu Minggu di Departemen Agama. Adapun kedatangannya ke Al-Azhar Kelapa Gading Surabaya dalam rangka studi lapangan untuk hari terakhir dalam pelatihan tersebut. Di waktu yang bersamaan, jam yang sama, Kapala Sekolah TK se Kecamatan Mulyorejo berkunjung ke Al-Azhar Kelapa Gading Jakarta untuk Studi Banding.
Ada 40 guru yang mengikuti kunjungan ke Al-Azhar Kelapa Gading Surabaya dengan didampingi satu pembimbing, bapak Drs. Agus Ahmadi, M.Ag. Setelah direktur, kepala sekolah SMP, dan guru BP Al-Azhar Kelapa Gading Surabaya mnyampaikan materi. Peserta diberi kesempatan untuk bertanya. Salah satu peserta dari Tuban bertanya tentang pengembangan sekolah karakter dan penanganan terhadap anak. Alhamdulillah, ternyata berbagai persoalan yang ditanyakan dapat diterima dengan baik. Setelah itu, peserta diklat berkeliling untuk mengetahui kondisi kelas dan proses penanganan anak yang menghadapi masaah.
Kerjasama dengan Depag ini sudah sering kita lakukan, bukan hanya untuk SMP, tetapi juga untuk SD. Kami merasa bersyukur diberi kepercayaan untuk memberikan materi kepada para peserta diklat. Semoga apa yang kita laksanakan bersama dapat bermanfaat dalam rangka mencerdasakan anak bangsa.

Monday, April 27, 2009

Guru dan Siswa TK Al-Azhar Kelapa Gading Surabaya Memborong Juara

Tanggal 25 April 2009 IGTKI bersama UPTD BPS Kecamatan Mulyorejo mengadakan seleksi lomba untuk Hari Anak Nasional. Kegiatan yang diikuti sekitar 1000 peserta dari 47 TK di Kecamatan Mulyorejo diselenggarakan di Perguruan Islam Al-Azhar Kelapa Gading Surabaya. Ada 8 cabang lomba yang diperebutkan di dalam kegiatan HAN tersebut. Lomba menyanyi tunggal, nyanyi bersama, percakapan, tari, mewarna, melempar, dan menyanyi sambil bermain. Menurut panitia, tempatnya sangat representatif. Selain semua ruang yang dibutuhkan tersedia juga ada lapangan yang luas untuk arena olahraga. Sangat memungkinkan dipenuhi sekitar 2000 orang, baik peserta, guru pendamping, maupun orang tua. Kegiatan ini juga diliput oleh Radar Surabaya.

Alhamdulillah, pembinaan yang selama ini dilakukan membuahkan hasil. Dari 8 cabang yang dilombakan, TK Islam Al-Azhar Kelapa Gading Surabaya mendapat 6 piala (juara umum). Juara 1 menyanyi bersama, juara 1 percakapan, juara 1 melempar, juara 2 tari, juara 2 menyanyi tunggal, dan juara 3 percakapan.

Acara yang setingkat kecamatan itu dimeriahkan berbagai kesenian siswa SD Al-Azhar Kelapa Gading Surabaya. Ada drummer cilik Renno Daffa, kelas 3 SD yang juara 1 Jawa Timur. Ada juga penyanyi cilik Putri Diyanah Mahdiyah (Dea) yang telah mengeluarkan lima album. Ada juga seni patrol yang juara kota Surabaya. Begitu juga band putri kelas 5 dan musik ansambel juga ikut ambil bagian dalam acara HAN Kecamatan Mulyorejo.

Sebelumnya berbagai prestasi telah diukir oleh siswa TK. Tanggal 23 membawa 3 piala dari Maspion Square dalam acara Preschool Festival 2009. Juara 1 Reading in English, juara 1 dan 2 Puisi “Guru Idolaku”. Tanggal 14 April di Perpustakaan Universitas Airlangga mendapat juara 3 lomba bercerita. Tanggal 18 April di Al-Khoiriyah mendapat juara 1 dan 3 untuk lomba Puzzle Komputer dan juara 1 lomba menyanyi bersama. Tanggal 19 April di Al-Muttaqin mengikuti lomba hafalan surat pendek, Alhamdulillah untuk juara 1 sampai 3 diborong oleh anak TK Islam Al-Azhar Kelapa Gading Surabaya. Tanggal 18 April 2009, ditunjuk UPTD BPS Mulyorejo untuk mewakili Mulyorejo ke Dinas Pendidikan Kota Surabaya dalam lomba menyanyi tunggal. Alhamdulillah bisa juara 3.

Bersamaan dengan berbagai kejuaraan untuk anak TK, tanggal 23 April 2009 guru TK juga berpretasi menjadi juara 1 lomba baca puisi, juara 2 guru berprestasi, dan juara 3 menyanyi. Sebelumnya kepala sekolah dan guru sudah mewakili sebagai kepala sekolah dan guru PAUD berprestasi kecamatan Mulyorejo. Untuk kategori Kepala Sekolah berprestasi, mendapat juara 3 dan guru PAUD, mendapat juara 2 Tingkat Kota Surabaya. Semoga prestasi yang baik ini bisa ditingkatkan lagi.

Sunday, April 19, 2009

Anak Perlu Dilatih Menyelesaikan Masalah

Setiap orang tua sangat berharap memiliki anak yang solih-solihah, penyejuk mata (qurrota a’yun), dan mandiri, siap meminpin orang lain dan diri sendiri. Bahkan setiap hari orang tua minta kepada Allah melalui do’a. Sebagaimana firman Allah Surat Al-Furqon ayat 74, yang artinya: "Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan anak-anak kami sebagai penyejuk mata dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertaqwa."
Harapan yang setiap hari dilafalkan lewat doa seringkali tidak diikuti dengan perilaku yang baik kepada anak-anak kita. Banyak kesalahan yang dilakukan oleh orang tua bukan karena orang tua tidak sayang. Justru karena sayangnya kelewatan, banyak orang tua melakukan kesalahan. Anak mau melakukan ini tidak oleh mau begitu tidak boleh. Anak selalu dihindari dari masalah yang mestinya bisa dijadikan sebagai pengalaman masa kecil anak.

Orang tua berharap anaknya memiliki kemandirian, namun sejak kecil anak tidak boleh berhadapan dengan masalah. Menghadapi masalah sedikit saja orang tua sudah harus memberikan perlindungan yang berlebihan. Bahkan ada kecenderungan orang tua tidak mau direpotkan, yang penting anaknya tidak menghadapi masalah, aman dari persoalan.
Ketika melihat anak menangis minta sesuatu, orang tua segera memberikan, meskipun itu belum perlu. Ketika melihat anaknya belajar berjalan dan terjatuh, orang tua segera menolong tanpa diberi motivasi untuk mencoba melangkah lagi. Hal ini tampak karena orang tua begitu sayang kepada anak.Takut jika anaknya terluka. Orang tua tidak menginginkan anaknya menangis karena ada masalah. Maunya orang tua ingin segera membantu.
Dunia anak memang dunia bermain, baik itu di sekolah maupun di rumah. Dalam permainan itu, anak mulai berhadapan dengan keberagaman teman. Ada yang pendiam, ada yang jail, bahkan ada yang suka mengganggu. Menghadapi masalah seperti ini terkadang orang tua kurang memberikan apresiasi. Maunya si anak harus berteman dengan yang aman-aman saja, anak yang pendiam, anak yang pintar. Lebih parahnya, ketika anak mengalami masalah dengan temannya, justru orang tua yang mengambil inisiatif untuk membantu.
Sekali lagi, kesalahan orang tua terhadap anak bukan karena tidak sayang, tetapi kelewatan sayang. Anak tidak diberi kesempatan untuk menyelesaikan masalahnya. Dengan bahasa lain orang tua tidak tega jika anaknya harus bersusah-susah menyelesaikan masalah.
Orang tua pasti ingin anaknya menjadi pemenang dan tidak mau anaknya menjadi pecundang. Namun dengan perlakukan yang berlebihan seperti ini (over protectif) maka sangat memungkinkan anak hanya akan menjadi pemenang di rumah, tetapi sebaliknya jika di luar rumah, anak akan menjadi pecundang. Setiap ada masalah selalu minta tolong karena tidak bisa menjadi problem solver justru yang sering anak hanya sebagai problem maker.
Apapun yang dikehendaki oleh anak akan terpenuhi. Anak tidak memiliki kemampuan untuk menyelesaikan masalah. Semua masalah yang dihadapi oleh anak sudah diambil alih oleh orang tua. Anak selalu merasa aman dan nyaman di samping orang tua. Seolah-olah tidak ada orang lain yang berhak mengganggu dirinya selama masih ada orang tua. Jika hal ini terjadi terus menerus, maka kelak dewasa anak sulit berperilaku mandiri.
Keinginan orang tua bisa terwujud jika orang tua mau menahan diri. Memberikan kesempatan kepada anak untuk belajar menyelasaikan masalahnya sendiri. Sebenarnya masalah yang dihadapi oleh anak-anak tidak terlalu rumit. Insya-Allah anak-anak mampu menyelesikan masalahnya sendiri. Orang tua cukup memberikan motivasi untuk bisa menghadapi setiap masalah anak dengan tenang. Bukan orang tua yang mengambil alih agar anaknya bisa terhindar dari masalah.
Berdasarkan pengalaman yang ada di masyarakat, banyak orang sukses yang kehidupannya ditempa melalui pengalaman hidup sejak kecil. Merekalah yang mampu memenangkan persaingan di dunia nyata. Anak yang sejak kecil sering berhadapan dengan masalah dan diajari untuk menyelesaikan masalah, dialah yang akan memiliki kekayaan luas terhadap problem yang dihadapi dan tahu cara menyelesaikannya. Akhirnya, dia akan menjadi problem solver.
Pengalaman hidup adalah hal yang sangat berharga untuk kemudian hari. Ibarat seorang dokter yang sering menghadapi pasien, maka dokter tersebut akan banyak memiliki pengalaman. Begitu juga seorang guru yang sering menghadapi broblem di kelas, maka dengan pengalaman itu, akan banyak langkah yang diperoleh untuk menyelesaikan masalah, asalkan guru itu tidak mudah mengeluh.
Rasulullah Muhammad SAW mempunyai pengalaman hidup yang cukup berat. Ketika dilahirkan, tidak bertemu dengan ayah. Ketika usia enam tahun ditinggal oleh ibu. Dengan kondisi yang cukup berat itu, Muhammad mampu menghadapi permasalahan dengan baik. Akhirnya beliau tampil sebagai pemimpin yang paling berpengaruh.
Insya Allah kita semua berharap anak kita menjadi anak yang tangguh. Anak yang siap menghadapi tantangan hari esok yang lebih berat. Untuk itu, berikan kesempatan kepada anak-anak kita untuk belajar menyelesaikan masalah yang dihadapi. Biarkan anak kita bertemu dengan keragaman masalah. Namun demikian, ajarilah untuk menyelesaikan masalah dan bukan mengambil alih masalah. Dengan demikian, insya-Allah kita akan menemukan anak-anak kita yang tanggung dan siap menghadapi masalah dan menjadi pemimpin masa depan. Amin.